
Hari ini Gokiel Abiez berkata mengenai":Siapa bilang barang bekas tak berharga. Berbekal olahan tembaga dari barang bekas Muhairi bisa meraup laba Rp 2,5 juta per bulan.
Di tangan Muhairi, olahan tembaga dari barang bekas itu berubah jadi benda bernilai seni tinggi dan berfungsi. Karena ia mewujudkannya sebagai jam tangan tangan/arloji. Sejak lama, arloji menjadi bagian dari fashion. Fungsinya tak lagi sekadar penunjuk waktu, tetapi juga sarana meletupkan citra diri.
“Awal mulanya saya usaha kerajinan alat pijat dan mainan dari kayu. Seiring perjalanan waktu, saya kembangkan usaha kerajinan jam tangan etnik dari tembaga,” ujar perajin jam tangan etnik dari Mojokerto ini saat ditemui di expo Hari Koperasi Nasional di Sarana Olahraga (SOR) Tri Dharma PT Petrokimia Gresik baru-baru ini.
Muhairi merintis usaha kerajinan sejak 1992. Sementara usaha jam tangan etnik baru sembilan bulan lalu.
Jam tangan etnik buatannya bisa jadi gelang dan juga bisa jadi jam. Pasalnya, tali jam tangan yang biasanya dari kulit, kini berganti menjadi tembaga. Menariknya, tembaga itu ditampilkan dalam motif yang sering dijumpai pada kain batik.
Menurut Heri, demikian dia biasa dipanggil, produk jam tangan etnik dari tembaga tidak dapat luntur dan berubah warna layaknya jam tangan lain.
Proses pembuatannya, dengan cara dibakar dan dipoles. “Untuk rantai atau gelang jam tangan yang terbuat dari tembaga pembuatannya bisa dibakar atau dipoles dengan mesin gerinda untuk menghaluskan permukaan,” tuturnya.
Usaha ini kian ditekuni setelah memperoleh modal dari salah satu bank pemerintah sebesar Rp 10 juta pada 1993 dengan bunga ringan. “Waktu itu untuk keperluan alat usaha dan bahan baku,” tukasnya.
Untuk mendukung usahanya, Heri kini mempekerjakan tujuh orang. Perajin yang membuka usahanya di kawasan Wates Mojokerto ini, mematok harga per bijinya sebesar Rp 50 ribu. Sementara produksi per harinya dapat mencapai 25 biji.
Dia melihat, jam tangan etnik ini digandrungi para kawula muda karena bentuk dan motifnya berbeda dengan jam tangan konvensional. Karena itulah Heri yakin peluang usaha ini masih terbuka lebar.
Dari pemanfaatkan barang bekas itu, setiap bulannya meraup keuntungan hingga Rp 2,5 juta. Keuntungan tersebut diperoleh dari membuka stan di salah satu mal di Mojokerto. Selain dengan mengikuti pameran.
Heri mengaku, bila mengikuti stan yang diadakan pemerintah, dirinya bisa mendapat untung yang lumayan. Pasalnya, stan yang disediakan tidak dipungut biaya. Berbeda kalau mengikuti pameran yang digelar pihak swasta, karena stannya dijual. m6
Sumber : www.surabayapost.co.id

RSS Feed
Twitter
Facebook